Berita Analisa Saham IHSG ndonesia

Seiring melemahnya pasar media cetak di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, memaksa seluruh perusahaan media harus memutar otak demi menjaga keberlangsungan bisnisnya. Kini perusahaan media mau tidak mau harus melakukan investasi pada bisnis media online (daring). Hal itu agar ketika media cetak semakin terpuruk di pasaran, bisnis media online bisa menjadi penopang dalam melanjutkan laju usahanya.

Strategi berinvestasi pada bisnis media online, salah satunya dilakukan oleh perusahaan media lokal Harapan Rakyat Grup yang berbasis di Kota Banjar, Jawa Barat. Grup media lokal ini sudah dari jauh-jauh hari melakukan investasi pada bisnis media online dengan nama domain harapanrakyat.com.

Direktur PT Harapan Rakyat Online (perusahaan yang menaungi harapanrakyat.com), Subagja Hamara, mengatakan, pihaknya pada 9 tahun lalu atau tepatnya tahun 2010 sudah memprediksi akan terjadi penurunan omzet penjualan media cetak atau koran. Bahkan, tambah dia, dalam beberapa tahun ke depan, bisa jadi industri media cetak makin suram seiring gencarnya media berbasis digital.

“Istilahlahnya, saat ini terdapat situasi yang menjepit pada usaha media cetak. Bayangkan saja, di saat harga kertas koran terus melambung akibat kondisi ekonomi nasional, di sisi lain industri media daring atau online semakin menjamur dan langsung mendapat sambutan postif dari pasar,” kata Subagja yang juga Pimpinan Redaksi harapanrakyat.com, Selasa (09/07/2019).

Subagja menambahkan, media online mendapat sambutan positif dari pasar karena mendapat dukungan dari berbagai aspek, salah satunya dukungan penyebaran berita melalui media sosial. 

“Kondisi saat ini sudah terjadi pergeseran budaya dalam mendapatkan informasi. Kalau dulu atau ketika media online dan media sosial belum ada, masyarakat yang ingin mendapat informasi terkini harus membeli dulu koran. Tapi sekarang justru malah sebaliknya. Berita media online langsung disuguhkan kepada masyarakat melalui penyebaran di media sosial atau media referral lainnya,” ujarnya.

Saat ini, kata Subagja, untuk mengakses informasi terkini hanya cukup menggunakan handphone dengan cara membuka situs media online. Saat membuka situs media online pun, masyarakat tidak harus mengeluarkan biaya atau gratis. 

“Ditambah lagi berita yang muncul di media online sangat update. Kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam hitungan menit saja sudah bisa tayang di media online. Sementara orang mendapatkan informasi dari koran harus membeli dan beritanya pun peristiwa yang terjadi kemarin,” ujarnya.

Dengan kondisi itu, kata Subagja, sulit bagi media cetak untuk bersaing dengan media online. Salah satunya solusi agar perusahaan media tetap eksis di jalur usahanya, tambah dia, mau tidak mau harus melakukan investasi di media online.

“Memang saat ini bisnis media cetak belum mati total. Masih banyak pembaca setia yang selalu menunggu kehadiran koran. Tapi untuk membangun sebuah website situs berita atau media online yang bagus pun tidak bisa dilakukan dengan waktu singkat. Harus dibangun dalam waktu bertahun-tahun. Artinya, perlu melakukan investasi dari jauh-jaiuh hari,” katanya.

Sementara harapanrakyat.com, terang Subagja, sudah dipersiapkan dari tahun 2010. Kemudian pada tahun 2013 mulai dilakukan optimasi website agar bisa bersaing dengan media online lainnya. 

“Dalam investasi media online tentu tidak sama dengan inventasi media cetak. Kalau media cetak cukup punya modal besar dan percetakan, sudah bisa langsung leading. Tetapi investasi media online tidak cukup dengan punya modal saja, tetapi waktu pun ikut menentukan,” katanya.

“Seperti domain yang usianya tua akan semakin berefek bagus di pencarian google. Ditambah lagi situs berita yang memiliki konten yang banyak atau sudah beratus ribu jumlahnya juga akan menambah efek positif terhadap peningkatan jumlah pembaca. Artinya, untuk mencapai semua itu, harus dilewati dengan proses waktu atau tidak bisa dilakukan secara instan,” terangnya. 

Harapanrakyat.com sendiri, kata Subagja, terus dilakukan optimasi khususnya dalam Search Engine Optimization (SEO). Hal itu guna meningkatkan jumlah pembaca yang datang dari situs pencarian seperti google. 

“Sebenarnya kami sudah memiliki segmen pembaca lokal di Ciamis, Banjar dan Pangandaran. Segmen pembaca itu terbentuk secara alami atau karena popularitas Koran Harapan Rakyat yang sudah berdiri selama 15 tahun. Namun, segmen lokal belum cukup untuk mendongkrak popularitas harapanrakyat.com. Akhirnya, kami pun perlu mendapat tambahan visitor dari pembaca di daerah lain dengan menawarkan artikel mengenai teknologi dan gaya hidup,” ujarnya.  

Menurut Subagja, meski media online jangkauannya mendunia, namun pihaknya tidak akan mengubah konten harapanrakyat.com yang lebih banyak menyajikan berita lokal seputar Kota Banjar, Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Pangandaran. 

“Konten lokal adalah nafas dari harapanrakyat.com. Kami ingin konten yang kami tawarkan lebih mendetail, meskipun sekupnya terbatas oleh wilayah. Karena kami pun memiliki misi ingin memperkenalkan potensi yang ada di Ciamis, Banjar dan Pangandaran kepada masyarakat dunia,” ujarnya.

Sedangkan Koran Harapan Rakyat, lanjut Subagja, hingga saat ini masih terus konsisten menyapa pembacanya. Meski bisnis media cetak di Indonesia terus mengalami penurunan, Koran Harapan Rakyat diusahakan terus eksis. 

“Memang perlu strategi dalam mengelola harapanrakyat.com dan Koran Harapan Rakyat agar bisa maju secara bersamaan. Karena kalau tidak disinergikan, justru harapanrakyat.com sendiri yang akan membunuh eksistensi Koran Harapan Rakyat,” katanya.

Untuk mensiasati keduanya agar berjalan beriringan, terang Subagja, langkah pertama dipisahkan dulu manajemen dan redaksi keduanya. Koran Harapan Rakyat di bawah naungan PT Harapan Rakyat Media. Sedangkan harapanrakyat.com kini berada di bawah naungan PT Harapan Rakyat Online. 

“Ketika manajemen sudah berbeda, masing-masing perusahaan memiliki target sendiri-sendiri. Tentunya dengan begitu akan lebih fokus dalam menggarap usahanya. Berbeda kalau masih disatukan dalam satu manajemen. Pasti ada satu yang diistimewakan dan satunya lagi dikesempingkan,” ujarnya.

Subagja menjelaskan, dari konten berita pun terdapat perbedaan antara berita yang dimuat di Koran Harapan Rakyat dan harapanrakyat.com. Untuk Koran Harapan Rakyat, beritanya lebih mendalam dengan sajian liputan deep news. 

“Memang ada berita Koran Harapan Rakyat yang dimuat kembali di harapanrakyat.com. Tapi tidak semuanya. Berita unggulan Koran Harapan Rakyat tidak kami posting di harapanrakyat.com. Apabila ada pembaca yang ingin mengetahui berita tersebut, biarkan saja mencari Koran Harapan Rakyat. Dengan begitu, kedua media ini bisa saling maju beriringan dan tidak saling membunuh,” terangnya.

Koran Harapan Rakyat, kata Subagja, sudah terverifikasi administrasi dan faktual dari Dewan Pers. Begitupun dengan harapanrakyat.com. “Secara legal formal kedua media di grup kami sudah mendapat sertifikat lolos verifikasi dari Dewan Pers. Malah media kami yang pertama terverifikasi Dewan Pers untuk di wilayah Priangan Timur Jawa Barat,” katanya. 

Artinya, lanjut Subagja, dari sisi manajemen perusahaan, dua media di grup Harapan Rakyat sudah dianggap layak sebagai perusahaan pers dengan kategori sehat oleh Dewan Pers. Karena verifikasi yang dilakukan oleh Dewan Pers lebih menyasar pada sisi manajemen.