SAHAM.NEWS, JAKARTA – Kenaikan cukai rokok yang pada saat ini mencapai rata-rata 10,54% dan peningkatan pajak penerimaan negara (PPN) hasil tembakau dari 8,7% menjadi 9,1% sangat mempengaruhi produsen rokok dalam negeri. Diperkirakan pemerintah akan mendapat tariff 9,5% lebih tinggi untuk produk Sigaret Kretek Mesin (SKM) sedangkan untuk Sigaret Kretek Tangan (SKT) 7,1 lebih tinggi.

Dang Maulida, Analisis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menjelaskan bahwa untuk mengatasi kenaikan PPN hasil tembakau dan cukai, biasanya perusahaan akan
menaikkan harga jual secara bertahap hingga mencapai tigkat kenaikan cukai.

PT. HM Sampoerna Tbk (HMSP) telah menyusun strategi untuk menghadapi kenaikan cukai ini. Sebenarnya kenaikan cukai hasil tahun lalu lebih besar, mencapai 12,9 %, dengan tarif cukai rokok SKM 16,4% dan SKT 12% dibandingkan dengan tahun ini. Maka itu, kenaikan kali ini yakini tidak akan mempengaruhi konsumsi masyarakat. Hal tersebutlah yang membuat HMSP percaya diri menghadapi masalah kenaikan PPN ini walaupun beban operasional terbesar perusahaan ialah dicukai hingga mencapai 65,3%, untuk biaya bahan baku dan iklan 3,5% sedangkan 18,4% untuk overhead dan lainnya dari total beban operasional.

Dang juga meyakini kenaikan cukai tidak akan mempengaruhi kinerja HMSP secara signifikan karena HMSP menguasai pasar rokok SKM dan SKT dengan jumlah tertinggi dibandingkan emiten lain. Market capital perusahaan mencapai 37,7% di kuartal III 2017 ini.

“Untuk mendorong laba laba perusahaan tahun ini, jalan terbaik adalah dengan melakukan efisiensi perusahaan”, tutup Dang.