Simak Analisa: Harga Saham BEST Target 520

SAHAM.NEWS, JAKARTA – Emiten pengembang lahan industri PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) memasuki masa dimana investor asing masuk ke indonesia untuk ekspansi maupun menikmati ratusan juta penduduk indonesia yang terus bertumbuh.

Lahan industri BEST yang sangat strategis dibandingkan kawasan lahan industri lainnya, membuat Harga saham BEST termasuk murah dan undervalue mengingat deviden yang dibagikan juga lumayan besar. Banyak analis menilai bahwa fundamental BEST terus membaik baik dari kuartal ke kuartal.

Kemarin Selasa (15/5) harga saham BEST ditutup pada posisi harga Rp 280 per saham. Michael Tjahyo, Analis Danareksa sekuritas  berpendapat bahwa kinerja secara kuertal yang terus membaik ditambah aksi korporasi pada kuartal 1 guna mengantisipasi gejolak kurs serta harga lahan industri yang naik dengan berbagai nilai tambah disekitar kawasan BEST membuat BEST dapat menjual lahan dengan mudah dibandingkan kompetitornya seperti DMAS maupun LPCK.

Apabila dilihat dari kinerja kuartal I 2018 dimana BEST berhasil mencatatkan penjualan 4,4 hektar dibandingkan pesaing2nya menjadi sinyal positif di awal tahun kinerja BEST.

Perlu diketahui bahwa BEST sudah mengantongi permintaan lahan dari sektor manufaktur, otomotif, logistik, kimia, dam konsumer seluas 72 hektare sejak Q4 2017 lalu dan diproyeksi akan closing penjualan sekitar Q2 dan Q3 ini.

Tak hanya inquiry yang menunggu, BEST juga sudah memegang 35 hektare penjualan backlog dari existing tenants senilai Rp 945 miliar dengan asumsi harga jual rata rata cukup senilai Rp 2,7 juta per meter persegi, maka harga wajar saham BEST berada di kisaran 480-520.

Gejolak Kurs hingga 14,000 rupiah memberikan keuntungan tersendiri bagi BEST, dikarenakan pinjaman sindikasi senilai US$ 75 juta yang bisa ditinggkatkan hingga US$ 130 juta serta memiliki bunga rendah 5,5% dengan tenor delapan tahun.

Rekomendasi Saham Pilihan Gratis & Berita Saham Terbaru langsung ke hp anda: Ikuti Official Telegram Channel Saham.news & Official Telegram Grup Analis Saham.news